Sawah merupakan sumber gas rumah kaca (GRK) yang signifikan

Sawah merupakan sumber gas rumah kaca (GRK) yang signifikan, terutama metana (CH4) dan nitrogen oksida (N2O), keduanya merupakan kontributor kuat terhadap perubahan iklim. Kondisi sawah yang tergenang air menciptakan lingkungan anaerobik (rendah oksigen) yang mendukung produksi gas-gas ini.



Gas Rumah Kaca dari Sawah

1. Metana (CH4):

-Sumber: Diproduksi oleh mikroba tanah dalam kondisi anaerobik saat bahan organik terurai. Emisi metana paling tinggi di sawah yang terus-menerus tergenang.

Dampak: Metana memiliki potensi pemanasan global sekitar 30 kali lipat dari karbon dioksida selama periode 100 tahun.


2. Nitrous Oksida (N2O):


Sumber: Terutama muncul dari pupuk nitrogen dan bahan organik dalam kondisi tanah tertentu. N2O dilepaskan saat sawah mengering di antara siklus banjir.

Dampak: N2O lebih dari 300 kali lebih kuat daripada CO2 dalam memerangkap panas di atmosfer.


#Strategi untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah


1. Pembasahan dan Pengeringan Alternatif (AWD):

Praktik ini melibatkan pengeringan sawah secara berkala alih-alih penggenangan terus-menerus. Pengeringan tanah mengurangi kondisi anaerobik, sehingga membatasi produksi metana. Ini mengurangi emisi metana hingga 48% dan dapat menghemat 15–30% air tanpa mengorbankan hasil panen.


2. Penggunaan Amandemen Organik Secara Bijaksana:

-Deskripsi: Menambahkan bahan organik seperti jerami meningkatkan emisi metana karena terurai secara anaerobik. Sebaliknya, komposkan residu organik sebelum menerapkan atau terapkan dalam jumlah yang dikurangi.


Manfaat: Mengurangi emisi metana dengan mengurangi bahan organik yang mudah terurai yang menghasilkan CH4.


3. Aplikasi Pupuk Secara Efisien:

Deskripsi: Gunakan pupuk lepas lambat atau bagi aplikasi nitrogen agar sesuai dengan tahap pertumbuhan tanaman. Ini mengurangi kelebihan nitrogen yang dapat menyebabkan emisi nitrogen oksida.


Manfaat: Menurunkan emisi nitrogen oksida dan meningkatkan penggunaan nitrogen

.