Kapal, tidak seperti kendaraan darat, tidak memiliki sistem pengereman tradisional karena air menawarkan serangkaian hambatan dan dinamika yang berbeda.
Sebaliknya, kapal mengandalkan metode alternatif untuk memperlambat atau berhenti, khususnya selama bermanuver atau dalam keadaan darurat.
Berikut ini ikhtisar tentang bagaimana hal ini dicapai:
1. Pembalikan Baling-baling (Propulsi Mundur)
- Cara Kerjanya:** Kapal melambat dan berhenti terutama dengan membalikkan arah baling-balingnya, sebuah proses yang disebut *propulsi mundur*. Dengan membalikkan mesin dan menciptakan daya dorong ke arah yang berlawanan, baling-baling memperlambat gerakan maju kapal.
- Penggunaan:** Propulsi mundur umum digunakan untuk mengurangi kecepatan selama berlabuh atau berhenti darurat.
Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk berhenti bergantung pada ukuran, kecepatan, dan momentum kapal.
2. Penggunaan Kemudi dan Pendorong Haluan
- Kemudi:** Meskipun kemudi tidak menghentikan kapal, kemudi membantu mengendalikan dan mengendalikan arah kapal selama perlambatan, khususnya pada kecepatan rendah.
- Pendorong Haluan dan Buritan:** Pendorong lateral ini sering digunakan untuk membantu manuver kapal di pelabuhan dan dapat mengurangi gerakan maju dengan menyesuaikan arah.
Pendorong ini sangat membantu untuk belokan tajam dan penting selama berlabuh.
3. Sistem Pemosisian Dinamis (DPS)
- **Cara Kerjanya:** Beberapa kapal, seperti kapal lepas pantai dan kapal penumpang besar, menggunakan sistem pemosisian dinamis, yang menggunakan beberapa pendorong dan baling-baling untuk mempertahankan atau mengubah posisi secara akurat.
Hal ini memungkinkan kapal untuk melakukan penyesuaian yang sangat tepat terhadap gerakannya.
- Penggunaan:** DPS biasanya digunakan selama manuver yang rumit, seperti yang diperlukan saat bekerja dengan rig minyak atau di dekat bangunan lain.
4. Berlabuh untuk Pemberhentian Darurat
- Cara Kerjanya:** Dalam situasi ekstrem, terutama di perairan dangkal, menjatuhkan jangkar dapat memperlambat kapal. Namun, hal ini berisiko dan dapat merusak kapal maupun jangkar karena tekanan yang tiba-tiba.
- Penggunaan:** Hal ini umumnya dianggap sebagai pilihan terakhir dan hanya digunakan jika metode lain gagal atau jika penghentian segera diperlukan.
5. Bantuan Kapal Tunda di Pelabuhan
- Cara Kerjanya:** Kapal besar sering kali mengandalkan kapal tunda untuk navigasi dan perlambatan yang aman di area terbatas seperti pelabuhan atau kanal. Kapal tunda dapat mendorong, menarik, atau memutar kapal sesuai kebutuhan.
- Penggunaan:** Hal ini penting untuk kapal yang sangat besar, yang memiliki inersia tinggi dan memerlukan bantuan ekstra untuk bermanuver dengan aman pada kecepatan rendah.
Pertimbangan Keselamatan dan Pengereman Darurat
- Dalam keadaan darurat, kapal dapat menggunakan kombinasi teknik ini—membalikkan mesin, menyetel kemudi, dan, jika diperlukan, berlabuh—untuk berhenti secepat mungkin.
- Kapal juga memiliki protokol darurat khusus, dan awak kapal dilatih untuk menangani prosedur penghentian darurat guna mencegah tabrakan atau kandas.
Secara keseluruhan, kemampuan kapal untuk berhenti atau bermanuver dalam keadaan darurat bergantung pada pengelolaan daya dan arah sistem propulsinya, bukan rem mekanis.


